Tarik Tambang

Permainan tarik tambang yang diadakan di SDIT Arofah 2 Klego mampu menarik perhatian peserta didik.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Tuesday, April 9, 2019

Nasyid Aku Hafizh Quran

Untuk mengunduh file klik disini



Nasyid Hafizh Quran
(SMPIT IHSANUL FIKRI)
Cipt : Tri Yulianto

Ku putuskan satu impian
Aku ingin jadi hafizh Quran
Ku akan bertahan
Walau sulit melelahkan
Allah beri aku kekuatan

Ku impikan Sepasang mahkota
Ku berikan di akhirat kelak
Sebagai pertanda
Bahwa kau sangat ku cinta
Aku cinta engkau karena Allah

Reff :
Ku cinta ummi
Ku cinta abi
Ku harap doamu
Selalu dalam hati

Ku cinta ummi
Ku cinta abi
Ku harap bersama
Di surga-Nya nanti

I love you Ummi
l love you Abi
I love my family
forever in my heart

Saturday, April 6, 2019

Parenting

Tentang Dia yang Rela Berbagi Kasih
===

Ada saat di mana aku dan istri mulai kehabisan kesabaran mengurus para bocah.

Seperti semalam, saat si sulung tak mau tidur hingga pukul 11 malam. Sedangkan badan ini sudah sangat letih, seharian kerja dan ingin segera istirahat sebab Minggu subuh (hari ini) harus berangkat ke Malang untuk mengisi nasyid di acara pernikahan.

Apalagi istri, selama tiga hari ini dia sering begadang akibat nungguin air yang baru bisa ngucur setelah lewat jam 12 malam. Bahkan di hari ketiga, kami harus mengungsi ke rumah orangtua karena air sama sekali nggak keluar, membuat nggak bisa mandi, cucian baju menumpuk.

Subuh sudah wajib bangun, sholat dan lanjut mengurus dua bocah. Belum lagi kerjanya jadi nambah, ngepel lantai karena rumah kontrakan bocor gak karuan kalau lagi hujan.

Kami lelah, dan ingin istirahat.

Nah, di saat letih seperti itu, si sulung seolah mau menguji kesabaran kami. Ada saja yang ia minta.

Awalnya minta susu. Setelah susu habis, minta pipis. Aku pikir setelah pipis dia bakal tidur. Nyatanya tidak, dia malah bongkarin mainan di ruang tamu. Belum juga beberapa menit dia kembali ke kamar sambil berseru keras,

“Mpiiis!”

Aku bangkit, kembali mengantar ia pipis ke kamar mandi. Istri sibuk momong si kecil yang selalu terbangun bila kakaknya ngomong keras.

Sehabis pipis, kugendong ia ke kamar, berusaha menidurkan. Tapi lagi-lagi, di saat adiknya baru saja terlelap, si kakak teriak minta dibuatin susu. Tentu saja suara itu membuat si kecil terbangun lagi, dan menangis.

“Kamu tidur di luar aja, Mas Ayas. Adiknya bangun terus ini loh. Jangan teriak-teriak,” istri udah mulai gak sabaran.

“Nen.” Dia minta susu.

“Nanti dulu. Tunggu adeknya bobo dulu. Sampai pusing Uminya, istirahat bentar aja susah.”

Aku bangkit lagi, buatin susu untuk si sulung.

“Ini terakhir, ya. Harus bobo abis ini,” ucapku ke kakak sembari menyodorkan susu botol.

Aku bersiap istirahat.

Namun lima menit kemudian, sebelum bener-bener terlelap, kudengar si sulung kembali berteriak.“Icaaaaak!!! Umi, Icaaaaak.”

Mendengar suara itu, si bungsu langsung terbangun dan nangis. Istri langsung bangkit dengan wajah sebal lalu membawa kakak keluar kamar. Aku mengikuti dari belakang.

“Bobo di kasur saja kamu. Adeknya nggak bisa bobo, kamunya nggak bisa diem dari tadi.” Istri kesal. Aku bisa memahami dia pasti sangat lelah.

Setelah dimarahi Uminya, kulihat ada genangan di pelupuk matanya, bibirnya bergetar. Ia melihatku, mau mengadu. Karena capek, bukannya membela, aku malah ikutan memarahi kakak.

“Sudah dibilangin bobo ya bobo. Rame aja. Adiknya bangun terus denger kamu rame. Udah dibuatin susu, udah pipis. Mau apa lagi?”

Air mata si sulung makin menggumpal di pelupuknya.

Dia menunjuk kamar, lantas berucap dengan suara bergetar, “Abi, ada icak. Icak icak di dinding, iyam iyam meayap.”

Deg!

Ternyata si Mas pingin ngasih tau kalau di kamar tadi ada cicak. Dan memang seperti itu kebiasaannya. Kalau lihat cicak, dia akan menunjukkan pada kami, lantas bernyanyi lagu cicak-cicak di dinding. Setelah itu biasanya kami akan menciumnya sambil bilang,

“Wah, Mas Ayas makin pinter aja. Coba hitung ada berapa itu cicaknya?”

Dia pun mulai menghitung. “Apu, dua, iga.”

Mungkin si kakak barusan bilang pada kami kalau ada cicak di kamar bermaksud biar ia mendapat pujian. Tapi karena mungkin badan terlalu letih, membuat kami tak menyadari hal itu dan lebih menonjolkan emosi.

Seketika kupeluk si sulung, lantas menggendongnya. Ia pun menangis di bahuku.

“Abi, icak. Icak icak di dinding, iyam iyam meayap,” dia bernyanyi sambil nangis.

Kuusap-usap rambutnya lembut.

“Iya Nak. Pinter. Ada cicak ya? Coba hitung ada berapa itu cicaknya?” Kubawa ia kembali ke kamar. Ia menatap langit-langit kamar tidur,

“Atu, uwa.”

“Yeay, ada dua!” ucapku. “Bobo yuk.”

“Iya.”

Aku menidurkannya kembali. Kugaruk-garuk pelan punggungnya.

Ya Allah, betapa tak bijaknya diri ini pada si sulung. Di usia yang sebenarnya mendapat sepenuh perhatian dari kami, ia malah harus berbagi kasih sayang dengan adiknya.

Di saat seharusnya bebas bermanja-manja, ia rela ‘dipaksa’ memahami kondisi kami. Padahal seharusnya kamilah yang mesti memahami segala tindakannya.

Betapa sebenarnya ia butuh lebih banyak perhatian dari kami. Istri selalu berucap, setiap siang Mas Ayas selalu menanyai keberadaanku padanya.

“Abi manah?”

“Kerja, Mas,” jawab istri.

“Oh, keja.”

“Nyari apa kalau Abi kerja?”

Ia tersenyum, “Uwaaa (uang).”

Bila sore menjelang, tiap mendengar suara motor, Mas Ayas langsung lari keluar rumah. Namun bila tak melihatku di sana, ia akan kembali masuk rumah sambil bilang ke Uminya,

“Ndak ada. Abi ndak ada.”

Dan ketika aku pulang, anak inilah yang pertama kali menyambutku dengan senyuman manis di teras rumah. Lalu seperti biasa, setelah meletakkan tas kerja, ia bakal bilang,

“Kuda. Kuda.”

Dia minta main kuda-kudaan. Aku yang paham, langsung membungkuk. Kemudian ia naik di atas punggung ini.

Timbul rasa menyesal marah dengan anak

Ah, anakku.

Kucium, pipi si kakak.

“Minta maaf ya, Mas,” ucapku penuh penyesalan.

“Iya, maap,” jawab si sulung, lirih.

“Abi yang minta maaf. Bukan Mas Ayas.”

“Iya.”

Istri yang selesai menidurkan adek, seketika bangkit, dan memeluk si sulung.

“Umi juga minta maaf, ya, Nak.” Istri mencium si kakak.

“Iya, maap.”

Tak berapa lama, Mas Ayas tertidur.

Ya Allah, aku juga minta maaf pada-Mu, karena belum bisa menjaga titipan terindah-Mu ini dengan baik.

***

Malang, 04 Maret 2018
Fitrah Ilhami

Friday, April 5, 2019

Tarik Tambang

motivasi kehidupan

Permainan tarik tambang yang diadakan di SDIT Arofah 2 Klego mampu menarik perhatian peserta didik. Mereka sangat antusias mengikuti permainan tersebut. Guru-guru memberikan penguatan kepada peserta didik dengan mengutip tulisan dari Prof DR Hengki Halim Ph.D M.Psi MH M.Min Theo yaitu :

Tarik Tambang merupakan pertandingan yang melibatkan dua regu, dengan beberapa peserta. kedua regu tersebut bertanding dari dua sisi berlawanan dan semua peserta memegang erat sebuah tali tambang.

Di tengah-tengah terdapat pembatas berupa garis. Kedua regu berusaha saling menarik tali tambang sekuat mungkin, agar salah satu regu melewati garis pembatas. Regu yang tertarik melewati garis pembatas dinyatakan kalah.

Taktik permainan terletak pada penempatan pemain, kekuatan tarik dan pertahanan tumpuan kaki di tanah. Pada umumnya pemain dengan kekuatan paling besar ditempatkan di ujung tali, untuk menahan ujung tali saat bertahan atau menghentak pada saat penarikan

Filosofi yang diambil dari permainan tarik tambang adalah dengan menyatukan kekuatan akan dapat mengalahkan lawan. Makna lain tarik tambang adalah bagaimana upaya menggapai suatu tujuan harus melalui tarik ulur secara keras. Terkadang tambang bergeser ke kiri-kanan untuk menuju satu tujuan kemenangan. Tim yang kompak dan strategi yang tepat akan mampu menarik tambang dengan kuat.

Dari filosofi di atas sudah selayaknya semua komponen bangsa dan masyarakat harus menjadi bagian dari persatuan dan kesatuan Bangsa untuk mewujudkan tujuan bersama dari seluruh rakyat indonesia, yaitu Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.